Pendaftaran Kader PDI Perjuangan

Koster Siapkan Skema Transformasi Ekonomi Bali

  • 10 Juni 2021
  • Oleh: PDI Perjuangan Bali
  • Dibaca: 219 Pengunjung

Penegasan ini disampaikan Gubernur Koster saat jadi narasumber dalam seminar bertajuk ‘Transformasi Balinusra Meningkatkan Ketahanan Ekonomi Daerah’, yang dilaksanakan secara daring oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bali, Rabu (9/6).

Transformasi tersebut menyangkut struktur maupun fundamental ekonomi, sehingga terjadi keseimbangan baru. Nantinya, perekonomian Bali tidak hanya bertumpu pada sektor pariwisata, tapi juga potensi lain seperti pertanian modern, industri kreatif, refocusing pariwisata, pendidikan, dan digital payment.

Gubernur Koster menegaskan, Bali merupakan satu-satunya daerah di Indonesia  yang paling terdampak perekonomiannya akibat pandemi Covid-19, yang sudah berlangsung selama 15 bulan sejak Maret 2020. Ini bukan hal aneh, karena perekonomian Bali memang lebih dari 52 persen bergantung sektor pariwisata. Sedangkan pariwisata mati suri akibat pandemi Covid-19.

Karenanya, kata Gubernur Koster, PDRB Bali sangat bergantung dari pariwisata. Bahkan, bisa sampai 70 persen, termasuk usaha pariwisata tak langsung. “Memang sangat tinggi ketergantungan ekonomi Bali pada sektor pariwisata,” jelas Koster.

Dipihak lain, kata Koster, pariwisata merupakan sektor yang sangat sensitif, terutama terhadap isu keamanan dan kesehatan. Bali sudah beberapa kali mengalami cobaan terkait sensisitifnya pariwisata, termasuk serangan teror Bom Bali I (12 Oktober 2002) dan Bom Bali II (1 Oktober 2005).

Menurut Koster, tragedi Bom Bali I dan Bom Bali II mengakibatkan pariwisata Bali terganggu. Tetapi, gangguan itu tidak berlangsung lama, karena segera terjadi pemulihan. Kala itu, pemerintah menurunkan kebijkan khusus untuk Bali. Semua kementerian/lembaga melaksanakan kegiatan di Bali. Sejumlah event nasional juga dihelat di Bali.

Selanjutnya, pariwisata Bali juga sempat terganggu karena bencana erupsi Gunung Agung, akhir tahun 2017 lalu, yang mengakibatkan terganggunya penerbangan sehingga wisatawan domestik dan mancanegara mengalami penurunan. Tetapi, kata Koster, gangguan itu juga tidak berlangsung lama, karena pariwisata Bali kembali normal. “Sampai pertengahan 2018, erupsi Gunung Agung sudah selesai. Tidak sampai setahun, pariwisata Bali pulih kembali,” ujar Gubernur yang juga Ketua DPD PDI Perjuangan Bali ini.

Pengalaman tersebut, kata Koster, menunjukkan pariwisata merupakan sektor yang sensitif. Karena sensitif, pariwisata cepat jatuh dan cepat pula bangun. “Karena modalnya orang datang. Begitu situasi normal, karena orang cinta pada Bali, menjadikan daerah ini sebagai destinasi terbaik dunia,” tegas Koster. “Itu membuat orang ingin cepat ke Bali. Begitu wisatawan datang, hotel penuh, restoran laku, UMKM laku, ekonomi pun aktif dan menggeliat,” lanjut politisi senior asal Desa Sembiran, Kecamatan Tejakula, Buleleng ini.

Sebaliknta, dalam pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung 15 bulan, ekonomi Bali benar-benar terpuruk. Koster menyebut ini kejadian paling lama dan paling berat dampaknya bagi Bali. Bukan hanya Bali, pandemi Covid-19 juga berdampak ke ratusan negara. Belum ada kejadian seberat pandemi Covid-19, yang menimpa lebih dari 200 negara.

Menurut Koster, dari ratusan negara yang dihantam pandemi Covid-19, beberapa di antaranya selama ini menjadi sumber wisman bagi Bali, termasuk Australia dan Tiongkok. Pada 2019 lalu, jumlah wisman Australia ke Bali mencapai 1,3 juta orang, sementara wisman Tiongkok mencapai 1,2 juta orang. Sedangkan sumber wisman asal belahan Eropa, Singapura, dan Malaysia, sekitar 60 persen di luar Australian dan Tiongkok.

Koster menegasakan, semua negara tersebut mengalami pandemi, sehingga memberlakukan kebijakan melarang warganya keluar dari negeri. Demikian juga pemerintah RI, mengeluarkan Peraturan Menteru Hukum dan HAM (Permenkum HAM) yang melarang warga negara asing berkunjung ke Indonesia. Dengan Permenkum HAM tersebut, tidak ada warga negara asing yang berkunjung ke Indonesia, terutama Bali. “Jadi stuck pariwisata di Bali,” papar Koster.

Karenanya, otomatis 52 persen lebih pendapatan Bali dari sektor pariwisata menjadi nol, sehingga rentetannya juga terdampak. Ini benar-benar membuat perekonomian Bali sangat berat. “Dalam sejarah, ini kejadian pertama yang saya alami dan pertama juga perekonomian Bali mengalami kontraksi terdalam,” tegas mantan anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan Dapil Bali tiga kali periode (2004-2009, 2009-2014, 2014-2018) ini.

Belajar dari pandemi Covid-19 ini, kata Koster, harus dilakukan perubahan terhadap perekonomian Bali, baik struktur maupun fundamentalnya, supaya tidak lagi bergantung pada satu sektor pariwisata. Menurut Koster, pihaknyan sudah memikirkan dan mendiskusikan kebijakan baru terkait transformasi perekonomian Bali ini.

Skema untuk pengembangan kebijakan, kata Koster, lebih menyeimbangkan sruktur dan fundamental perekonomian Bali antara pariwisata, pertanian, kelautan, dan industri kreatif berbasis budaya branding Bali. Termasuk juga perekonomian digital yang sesuai dengan perkembangan teknologi informasi saat ini.

Selain itu, Pemprov Bali juga sedang mendorong peningkatan UMKM yang jumlahnya sangat besar, untuk menjadi karakteristik perekonomian Bali berbasis kerajinan masyarakat lokal Bali. “Ini yang sedang kami siapkan, sudah matang dan akan diterapkan tahun 2022 depan,” terang Koster.

Disebutkan, Bali juga memiliki potensi pertanian yang sangat ungggul, dengan tradisisi pertanian yang sangat kuat. Ada sistem subak dan komunitas-komunitas pertanian yang memiliki branding sangat kuat. Wilayah laut Bali yang kecil juga mengandung potensi perekonomian yang luar biasa dan belum pernah dikembangkan dengan arah kebijakan yang tepat.

Pandemi Covid-19 telah memberi pengetahuan berharga di mana IKM/UMKM yang selama ini menjadi penopang ekonomi kerakyatan nantinya akan dijadikan pondasi utama dengan berbagai fasilitas kebijakan. Jadi, Bali ke depan mengalami tranformasi perekonomian yang cukup signifikan. “Pariwisata tidak lagi menjadi satu-satunya andalan, tetapi akan tetap dikembangkan sebagai salah satu sektor ung-gulan,” urai Koster.

Pariwisata yang akan dikembangkan ke depan adalah pariwisata yang betul-betul berbasis budaya, yang menjaga martabat dan budaya Bali, masyarakat Bali dan daerah Bali. Koster juga sepakat untuk pengembangan ekonomi kawasaan Bali-Nusra. “Saya sangat setuju kembangkan ekonomi kawasan dengan berbasis keunggulan masing-masing daerah,” kata Koster menanggapi dua kolegannya, yakni Guber-nur NTB Zulkifliemansyah dan Gubernur NTT, Viktor Laiskodat.

Sementara itu, Kepala BI Bali, Trisno Nugroho, menyampaikan harapannya agar Gubernur Bali, NTB, dan NTT mempersiapkan strategi dalam rangka menyeimbangkan ekonomi di Bali-Nusra. “Kami apresiasi Gubernur dan pemerintah daerah sedrta pelaku usaha di Bali-Nusra, yang terus cari terobosan-terobosan dan upaya untuk membangkitkan kembali ekonominya,” ujar Trisno.


  • 10 Juni 2021
  • Oleh: PDI Perjuangan Bali
  • Dibaca: 219 Pengunjung

Berita Terkait Lainnya